Universitas Pakuan

http://www.unpak.ac.id/

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Citorek Sebuah Jurnal

Tanggal 16 Oktober 2013 lalu, mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia mengunjungi Wewengkon Adat Kasepuhan Citorek, Banten. Ini perjalanan pertama bagi saya mengunjungi kampung adat. Sebanyak 25 orang ikut dalam kegiatan ini.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 November 2013

Sepenggal Cerita dari Citorek

Oleh Arini Puji Lestari


Pintu masuk Kasepuhan Citorek (Foto: net)

            Hari telah menjelang sore, matahari meredup, dan udara mulai terasa dingin. Saya dan teman-teman  berkumpul di sebuah bangunan bernama babalean, yaitu tempat untuk berkumpul atau menerima tamu, mirip dengan rumah panggung. Seorang pemuda berpakaian dan berikat kepala batik menyuguhkan beberapa hidangan. Kemudian, masuk lagi beberapa orang yang lebih tua, memakai baju putih dan ikat kepala yang sama. Namun, dengan bentuk ikat yang lebih bervariasi.
            Bukan, saya dan teman-teman tidak sedang berada di Baduy. Sebuah daerah yang juga berada di Banten yang mempunyai kesamaan adat dalam  memakai ikat kepala bagi pria. Akan tetapi, saya dan teman-teman sedang berada di Kasepuhan Citorek.



Pertemuan mahasiswa Sastra Indonesia Unpak dengan Kasepuhan di babalean.
(Foto: dokumentasi pribadi)

            Masing-masing perwakilan, baik dari sesepuh Citorek maupun dari mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Pakuan yang diwakilkan oleh Bapak Dedi Yusar selaku Sekretaris Jurusan, memberikan sambutan serta menyampaikan maksud dan tujuan dari kunjungan kami ke sini. Kemudian, barulah sesi tanya-jawab antara mahasiswa dan sesepuh Citorek dimulai.
            Dari tanya-jawab itu diketahui beberapa hal, antara lain asal-usul Citorek. Versi yang pertama pada zaman dahulu, Citorek merupakan hutan yang tidak berpenghuni. Ada dua orang yang datang ke tempat itu, mereka haus dan hendak mengambil air, tetapi tidak menemukan sungai atau sumber mata air lainnya. Tiba-tiba, bambu yang mereka pakai untuk mengambil air jatuh menggelinding. Akibat bambu itu jatuh, ditemukanlah sungai. Dua orang itu lalu mengatakan, ”Masya Allah, sungai itu tidak ada perciknya.”
Versi yang kedua menceritakan bahwa orang Timur dari Mekah datang untuk membuka lahan. Dia tertarik dan bertujuan syiar agama Islam. Awalnya bernama Citorik dari bahasa Arab  thariq  yang berarti jalan, lalu berubah sesuai dengan pengucapan warga setempat menjadi Citorek. Sesepuh juga mengatakan bahwa dulu warga Citorek  hidup secara nomaden dan merupakan pecahan dari Guradog. Tentang tahun berdiri Citorek tidak dapat dipastikan karena dari beberapa orang yang diwawancarai memberikan jawaban yang berbeda.
Seorang sesepuh mengatakan, beberapa hari sebelum saya dan teman-teman berkunjung diadakan upacara Seren Taun yang merupakan wujud syukur masyarakat Sunda atas berkah yang telah Tuhan berikan atas hasil pertanian. Sayang sekali, saya dan teman- teman tidak bisa menyaksikan upacara itu karena bertepatan dengan Idul Adha.
Azan Maghrib pun terdengar. Saya dan teman-teman mohon diri untuk kembali ke penginapan yang tak jauh dari babalean. Tak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada sesepuh Citorek atas keramahan dan jamuannya.
Citorek dapat ditempuh selama 4–6 jam dari pusat Kota Bogor, tergantung dari keadaan lalu lintas dengan menempuh jalur Bogor-Leuwiliang-Jasinga-Cipanas-Citorek. Sepanjang jalan menuju Citorek akan terlihat pemandangan rimbunnya pepohonan serta barisan pegunungan. Tanjakan dan turunan yang tajam, serta jalanan yang rusak menjadi tantangan bagi Anda yang ingin berkunjung. Jalanan yang diaspal baru 2 kilometer dari Warung Banten. Baju hangat dan obat-obatan merupakan hal penting yang harus dibawa. Sebab, cuaca di sini cukup dingin saat sore dan malam hari. Handphone tidak terlalu berguna karena letak Citorek berada di balik pegunungan sehingga sinyal sulit didapat.

Citorek: Sebuah Jurnal

oleh Mita A. Lestari

Tanggal 16 Oktober 2013 lalu, mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia mengunjungi Wewengkon Adat Kasepuhan Citorek, Banten. Ini perjalanan pertama bagi saya mengunjungi kampung adat. Sebanyak 25 orang ikut dalam kegiatan ini. Kami dibagi ke dalam tiga mobil. Di antara 25 orang tersebut, hanya ada satu dosen yang membimbing kami selama perjalanan; Bapak Dedi Yusar. Ada juga beberapa alumni dari Jurusan Sastra Indonesia yang ikut.

Hari Pertama
Butuh waktu lima jam untuk sampai ke Citorek dari Kota Bogor. Citorek berada tepat di kaki Gunung Halimun. Setelah memasuki Provinsi Banten, tak terhitung berapa kali kami melewati jalan rusak, tikungan tajam, jalan menanjak, juga turunan curam. Ditambah, ada jurang yang menganga di tepi jalan. Sungguh, Citorek jauh dari kehidupan kota. Rombongan mobil kami mengundang tanya bagi warga sekitar. Mungkin, itu karena jarangnya kendaraan roda empat yang memasuki wilayah ini.
Sekitar pukul 16.00 WIB, kami sampai di kampung adat. Memasuki perbatasan kampung ini, kami disuguhkan pemandangan sawah yang luas sejauh mata memandang. Saya melihat seorang bapak yang bertelanjang kaki, baju dan celananya hampir penuh dengan lumpur. ”Bapak itu habis dari sawah,” ucap saya dalam hati. Kemudian, barulah kami dapat melihat beberapa rumah di tengah sawah, juga leuit di sekitarnya.
Selama tiga hari dua malam, kami menginap di kediaman Wahyu, salah satu senior saya, yang tinggal di sini. Turun dari mobil, saya mengedarkan pandangan ke sekeliling: ikat kain batik di kepala dan rumah panggung. Itulah yang menarik perhatian saya. Warga tersenyum ramah menyambut kedatangan kami. Ketika berjalan selepas turun dari mobil menuju rumah Wahyu, ada beberapa warga yang bertanya, ”Ti mana, Teh?”. Dalam bahasa Indonesia berarti ”Dari mana, Teh?”. Ya, warga Kampung Citorek ini berbahasa Sunda. Malah, mereka belum terbiasa dengan bahasa Indonesia.
Setelah shalat Ashar dan mencicipi beberapa hidangan pembuka dari tuan rumah, kami bertemu kasepuhan di babalean. Babalean merupakan tempat pertemuan warga. Setelah pertemuan dibuka oleh sambutan kedua belah pihak, beberapa mahasiswa kami bertanya mengenai Citorek. Sayang, tak banyak yang bisa kami tanyakan lantaran azan Maghrib mulai terdengar.
Saat pertemuan di babalean, rokok dan asbak menyita perhatian saya. Rokok diberikan satu per satu kepada kasepuhan, termasuk dosen kami. Ternyata, ini suguhan yang biasa di sini. Hampir semua pria dewasa di Citorek merokok dan selalu ada rokok dalam setiap pertemuan.

Hari Kedua
Sebelum alarm handphone berbunyi, saya terbangun sekitar pukul 4.00 pagi. Hanya diam, melamun sejenak, sebab saya masih enggan bergerak. Mungkin itu karena lelah saya belum terbayar. Dalam gelap–yang tak sepenuhnya gelap–samar-samar saya mendengar suara napas teman-teman yang cukup teratur. Ada juga dengkuran pelan tepat di sebelah saya, pertanda ia masih dibelai mimpi. Sesekali terdengar kaki yang beradu, seolah-olah saling menyalahkan.
Alarm teman mengagetkan saya. Satu per satu dari kami pun terbangun dan mengantre untuk mandi. Beberapa di antara kami malah menumpang mandi di rumah warga lain. Alasan kami siap-siap sepagi ini adalah jadwal berkunjung ke desa sebelah, yaitu Cibedug.
”Kira-kira waktu perjalanan itu dua atau tiga jam jalan kaki,” kata Kang Wahyu semalam. Dia juga bilang kalau jalannya menanjak dan berbatu. Ah, sudahlah, yang penting saya tidak berjalan sendirian selama itu. Di awal perjalanan, saya bertanya tentang Citorek kepada Kang Wahyu.

Tanya: Kang, katanya, panen di sini Cuma sekali dalam setahun. Kenapa hanya sekali?
Jawab: Karena sudah amanah dari sesepuh. Pernah dua kali panen, tapi gagal terus. Selain itu, supaya tidak terserang hama. Soalnya, di sini tidak seperti di tempat lain yang setahun itu panennya dua atau tiga kali. Di kampung itu selalu terjangkit hama, kalau di sini nggak pernah terjangkit hama.

Tanya: Ada perayaan khusus nggak?
Jawab: Ada, namanya Seren Taun, seperti syukuran. Kalau di tempat lain ada istilah sedekah bumi, tapi kalau di sini syukuran serah tahun atau pesta rakyat. Ada pertunjukan kesenian. Ada goong gede, arak-arakan. Acara intinya nabeuh goong gede, lebih untuk hiburan rakyat.

Tanya: Jadi, mata pencaharian masyarakat di sini hanya bertani?
Jawab: Iya betul, hampir setiap rumah di sini punya lumbung padi. Jadi, kamu nggak bisa nemuin orang yang jual nasi. Kalaupun ada yang butuh nasi, nasinya nggak dijual, tapi dikasih. Yang dijual hanya lauk-pauknya saja. Oh iya, selain bertani, mereka juga bertambang. Makanya di sini sudah banyak rumah modern, motor, juga mobil.

Tanya: Kalau masalah jabatan atau kepemimpinan di sini bagaimana?
Jawab: Di sini itu sistemnya kasepuhan. Kasepuhan itu seperti kerajaan. Jadi, masa jabatannya itu selama hidupnya. Jika akhirnya dia meninggal, jabatan itu akan turun ke keluarganya.

Tanya: Laki-laki di sini pakai ikat kain batik di kepalanya. Apa maksudnya?
Jawab: Ikat itu sebagai simbol orang Citorek. Mereka terikat secara kekeluargaan dan terikat dari norma-norma yang ada di sekitar. Amanah dari leluhurnya, mengikat batinnya dengan titipan leluhurnya.

Tanya: Kalau bertani dan bertambang sebagai mata pencaharian keluarga, bagaimana dengan pendidikan anak-anaknya?
Jawab: Sejak tahun ’90-an ke sini, kebudayaan mereka sudah mulai terbuka (berubah, red). Sebelumnya, mereka tidak diperbolehkan sekolah tinggi-tinggi. Alasannya, membantu orang tua bertani. Tapi sekarang, anak-anak di sini sudah banyak yang kuliah walaupun jauh dari kota.


Semakin lama, jalan semakin menanjak. Karenanya, pembicaraan kami terhenti dengan sendirinya lantaran napas yang mulai tidak teratur. Seingat saya, kami pergi sekitar pukul 7.30. Belum setengah jalan, perjalanan kami harus terhenti karena salah satu rekan kami pingsan dan memakan waktu lama. Alhasil, kami sampai di Desa Cibedug pukul 11.30.

Sabtu, 16 November 2013

Barang Gaib Itu Bernama Emas

oleh Putri Aulia Wardah dan Nurapiska Dwi Ningsih

Citorek mempunyai pemandangan alam yang mengagumkan. Maklum, letaknya berada tepat di kaki gunung. Ada hal yang menarik perhatian saya ketika pertama kali ke sini; rumah panggung. Ya, rumah yang beratapkan daun kelapa, dinding bilik, beralaskan papan, juga kamar mandi yang masih berupa sumur. Tentunya, bentuk rumah ini sudah tidak bisa kami jumpai di perkotaan.
Bertani adalah mata pencaharian utama masyarakat Citorek. Hampir semua rumah di sana mempunyai lumbung padi. Jadi, jangan heran jika tidak ada yang menjual nasi. Paling, hanya lauk-pauknya saja yang dijual. Namun ternyata, ada juga rumah yang sudah menjelma menjadi rumah modern. Rumah yang beratap genteng, beralaskan keramik. Di dalamnya ada barang-barang elektronik, seperti televisi. Bahkan, motor dan mobil terparkir manis di halaman rumah mereka. Kok bisa, ya?
Ternyata selain bertani, masyarakat Citorek juga menambang emas. Mereka percaya bahwa emas adalah barang gaib, yang bisa datang secara tiba-tiba atas kehendak-Nya. Sssstt, kalau mujur, mereka bisa mendapatkan Rp50 juta dalam sehari!


Gulundung: alat pengolahan batu emas.
Foto:net.


Sederhana dan Hangat

Sederhana dan Hangat
oleh Tria Ayu Lestari dan Vivi Wulandari

Mengunjungi Kampung Adat Kasepuhan Citorek merupakan pengalaman yang tak terlupakan. Banyak hal baru yang kami temukan di sini, yang tentunya belum pernah kami temui. Salah satu dari sekian banyak yang menarik perhatian adalah ”kehangatan” masyarakatnya.
Kami sangat mengagumi masyarakat di sini. Baru saja kami menginjakkan kaki di sana, mereka menyambut kami dengan senyum paling tulus. Senyum seperti ini jarang ditemui di perkotaan. Masyarakat kota seolah tak peduli satu sama lain. ”Bagimu urusanmu, bagiku urusanku,” begitulah kira-kira.
Tidak begitu dengan Citorek. Bagi mereka, tamu adalah raja. Mereka tersenyum dan menyapa kepada orang asing. ”Akang, Teteh, ti mana?”, ’Akang, Teteh, dari mana?’ tanya beberapa warga kepada kami sambil menyalami tangan kami satu per satu. Ah, mereka begitu hangat.
Masyarakat Citorek pun begitu sederhana. Ini bisa dilihat dari cara mereka berpakaian. Perempuan di sini mengenakan kebaya atau lengan panjang, kain sarung atau rok, dan kerudung. Laki-laki memakai sarung dan baju koko. Namun, laki-laki dewasa di sini mengenakan ikat kain batik di kepalanya. Ini merupakan simbol warga Citorek. Ikat tersebut juga menandakan bahwa mereka terikat satu sama lain oleh adat atau budaya setempat dan agama.